Webinar untuk Pembimbing Kemasyarakatan: Griya Abhipraya

Webinar untuk Pembimbing Kemasyarakatan:

Griya Abhipraya Sebagai Salah Satu Strategi Pembimbingan Klien Pada Balai Pemasyarakatan

(KJF Good Governance bekerjasama dengan Balai Pemasyarakatan Kelas I Malang)

Pada hari Senin, 29 Agustus 2022. KJF Good Governance bekerjasama dengan Balai Permasyarakatan (BAPAS) 1 Kota Malang mengadakan webinar bersama dengan judul Griya Abhipraya Sebagai Salah Satu Strategi Pembimbingan Klien Pada Balai Pemasyarakatan. Kegiatan ini deselenggarakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Dosen KJF Good Governance Departemen Psikologi.

Acara terlaksana dengan baik dengan dihadiri sekitar 500 peserta, baik dari masyarakat umum maupun dari instansi BAPAS Se-Indonesia. Dalam kegiatan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan Irjen. Pol. Drs. Reynhard Silitonga, S.H., M.Si. Dekan Fisip UB Dr. Sholih Mu’adi, SH., M.Si dalam sambutannya beliau menyapa peserta BAPAS dan petingginya. Beliau juga menyampaikan bahwa kolaborasi kelembagaan sangat bermanfaat, khususnya yang berkaitan dengan psikologi. Kegiatan ini sangat bermanfaat terutama bagi BAPAS dan Psikologi. Beliau juga menambahkan bahwa FISIP membutuhkan praktisi, baik dari dalam maupun luar termasuk orang yang berkecimpung dalam BAPAS. Aktivitas kampus tidak hanya berkaitan dengan teori tetapi juga praktek.

Terdapat tiga pemateri dari KJF Good Governance. Pemateri pertama disampaikan oleh Ali Mashuri, S.Psi., M.Sc., Ph.D. Dalam paparannya ia menyampaikan bahwa angka residivis di tahun 2021 sebanyak 11.02%. Stigma berakar dari fakta sosial dampaknya berkaitan dengan kesehatan mental. Stigma berkaitan dengan steretotip, separasi, dan diskriminasi. Perlu adanya dukungan sosial dan perubahan mindset untuk mereduksi stigma kepada mantan narapidana.

Materi kedua disampaikan oleh Sukma Nurmala, S.Psi., M.Si. Ia menyampaikan bahwa  tugas Pendamping Kemasyarakatan adalah melakukan pendampingan kepada anak, bagaimana anak dilatih cara regulasi diri. Individu perlu dukungan sosial yang penting. Untuk regulasi diri, pada anak perlu role model sehingga ke depannya anak mampu beradaptasi atau bersosialisasi dengan baik. Perilaku anak masih dalam proses modelling. Regulasi diri bisa ditingkatkan dengan pendidikan karakter/moral, imitasi, reinforcement dan punishment. Untuk melatih regulasi diri pada anak perlu proses dan disiplin agar regulasi diri bisa terbentuk dengan optimal. Dengan adanya regulasi diri yang baik anak dapat memilah mana yang baik dan tidak baik, sehingga ke depannya dapat terhindar dari perilaku negatif.

Pemateri yang ketiga adalah Selly Dian Widyasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia menyampaikan bahwa motivasi kerja merupakan poin penting dalam menggerakkan individu untuk melakukan pekerjaan dengan memanfaatkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Tidak terkecuali bagi mantan narapida yang telah kembali ke masyarakat dan kembali bekerja. Namun demikian, pengalaman menjadi narapidana membuat sebagian dari mereka kehilangan makna hidup dan kurang memiliki motivasi untuk bekerja. Usaha untuk mengembalikan fungsi mantan narapidana sebagai manusia utuh dapat dilakukan dengan menemukan kembali makna hidup mereka setelah menjalani masa pembinaan.

Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan psikoedukasi “Menemukan makna hidup melalui karya”. Psikoedukasi diberikan dengan memaparkan metode pengembangan pribadi menuju kualitas hidup yang sering digunakan dalam bidang rehabilitasi sosial, yaitu logo terapi. Prinsip logoterapi yaitu: 1) hidup tetap memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun 2) setiap manusia memiliki kebebasan -yang tidak tak berbatas untuk menemukan makna hidupnya 3) setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Psikoedukasi diberikan kepada Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang ada di Bapas. Dengan memberikan materi tersebut, diharapkan PK dapat membimbing mantan narapidana dalam menemukan makna hidupnya dan kembali bersemangat dalam bekerja.

Scroll to Top