Workshop Dongeng Untuk Tuli

[vc_row][vc_column][vc_gallery interval=”3″ images=”7784,7780,7781,7779,7782,7778,7783″ img_size=”full”][vc_column_text]Menjadi orangtua dengan anak-anak yang sehat adalah harapan dari setiap pasangan yang berumah tangga. Namun beberapa anak terlahir dengan keterbatasan tertentu, salah satunya keterbatasan dalam kemampuan mendengarkan, atau umum disebut tuli (deaf). Menghadapi kenyataan bahwa anak terlahir dengan tidak dapat mendengar adalah situasi sulit bagi keluarga. Namun, keterbatasan tersebut diharapkan justru mendorong orangtua dan lingkungan sekitar tuli untuk tetap membangun komunikasi dan belajar.

Salah satu stimulasi untuk membangun komunikasi dan belajar dalam keluarga dapat melalui penyampaian cerita atau dongeng. Berbagai penelitian menyatakan bahwa stimulasi ini memberikan banyak manfaat bagi anak, diantaranya untuk mendukung perkembangan kognitif, memperluas pengenalan obyek baru, perkembangan sosial dan emosional, daya imajinasi, dan ketrampilan Bahasa itu sendiri. Namun hal tersebut menjadi masalah tersendiri, ketika orangtua ingin memberikan stimulasi Bahasa kepada anak tuli. Hal tersebut karena akan berbeda dalam cara penyampaiannya ketika berkomunikasi, mengingat bercerita adalah menyampaikan melalui Bahasa lisan, sedangkan kendala utama tuli adalah terkait penyampaian dan menerima Bahasa lisan.

Dalam upaya membantu orangtua dalam membangun relasi melalui komunikasi dan mencapai manfaat mendongeng tersebut, Jurusan psikologi Universitas Brawijaya bekerjasama dengan penulis buku anak, Watiek Ideo serta teman-teman dari komunitas dongeng Malang menggagas acara bertajuk “Workshop Dongeng untuk Tuli”. Rencana kegiatan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019, dengan target peserta adalah para praktisi anak tuli, orangtua serta guru bagi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya tuli. Acara diselenggarakan di Aula Nuswantara, Gedung B lantai 7 FISIP Universitas Brawijaya Malang.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Scroll to Top