Ujian Terbuka Dr. Dra. Ika Widyarini, MLHR, Psikolog Mengenai Pengambilan Keputusan Etis

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Salah satu urgensi pengembangan teori pengambilan keputusan etis dalam kehidupan perguruan tinggi adalah kaitannya dengan integritas akademik. Masyarakat  masih berharap institusi pendidikan bisa menjadi tolok ukur sekaligus instrumen untuk penanaman nilai-nilai luhur para penerus bangsa.

Mahasiswa sebagai calon tenaga kerja perlu memiliki integritas guna menghadapi perkembangan pesat dunia kerja di tengah serbuan pasar global yang menghendaki penerapan etika kerja yang baik. Oleh sebab itu, akan menjadi pukulan berat manakala lembaga-lembaga pendidikan tinggi bukannya menunjukkan kemampuan menjaga nilai-nilai kejujuran dan integritas profesional, namun justru menjadi pencetak insan miskin integritas. Hal ini ditekankan oleh Dra. Ika Widyarini, MLHR, di Auditorium G-100 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada saat menempuh ujian terbuka Program Doktor. Belum banyak teori pengambilan keputusan yang dikembangkan dalam seting pendidikan. Padahal, situasi etis yang membutuhkan penerapan nilai kebajikan dalam kekuatan karakter dan emosi moral sering dialami di institusi pendidikan . Terlebih pada pendidikan tinggi, misalnya untuk etika penelitian maupun penulisan karya ilmiah.

Plagiarisme di kalangan akademik dan peneliti menjadi isu besar di berbagai media berita terutama ketika masyarakat dikecewakan dengan salah seorang tokoh pendidik  institusi tenama. Masyarakat kecewa karena orang yang mestinya menjadi teladan dalam hal integritas akademik, justru berperilaku sebaliknya. Oleh karena itu, menurut Ika Widyarini, pengembangan model teori pengambilan keputusan etis di institusi pendidikan sudah saatnya dilakukan. Dengan mengembangkan model teori pengambilan keputusan etis mampu memberi pemahaman lebih besar mengenai bagaimana etika diterapkan di ranah pendidikan.

Indonesia sendiri saat ini masih berada di ranking yang memprihatinkan dalam hal transparansi atau kebersihan sistem dibanding negara lain. Indonesia berada di ranking 96 dari 180, sementara skor corruption index Indonesia adalah 37 dari skor maksimal 100. Hal ini mencerminkan praktik tindakan transparan atau jujur dalam pengelolaan negara masih jauh dari baik.

Ika menuturkan pengambilan keputusan etis adalah pilihan yang menghasilkan keputusan yang baik, yang secara moral dapat diterima oleh kelompok atau masyarakat. Penelitian yang ia lakukan mengkaji tentang pengaruh emosi moral dan kekuatan karakter terhadap pengambilan keputusan etis. Emosi moral adalah emosi yang merespons pelanggaran moral, atau yang memotivasi individu untuk memilih perilaku moral tertentu. Sedangkan kekuatan karakter adalah kebajikan (virtues) yang dominan pada seseorang. Konsep-konsep pokok  ini dipaparkan Ika Widyarini saat mempertahankan disertasi berjudul Peran Emosi Moral dan Kekuatan Karakter Dalam Pengambilan Keputusan Etis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa emosi moral negatif yaitu marah dan jijik memiliki perbedaan pengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan etis. Marah meningkatkan pengambilan keputusan tidak etis,  sedangkan jijik atau muak cenderung membuat seseorang mengambil keputusan yang etis. Para mahasiswa yang memiliki kekuatan di karakter kreatifitas, kebaikan, syukur, harapan, humor dan spiritualisme cenderung dipengaruhi oleh dua emosi negatif tersebut ketika menghadapi situasi dilema etis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dengan membaca cerita pendek saja, emosi moral seseorang dapat tersentuh dan ini dapat mempengaruhi pengambilan keputusan etisnya.

Paparan ujian terbuka Ika Widyarini ditutup dengan penekanan bahwa masih banyak yang dapat dilakukan untuk membentuk generasi muda, terutama yang masih di bangku kuliah bila kita menginginkan generasi masa depan yang lebih bijak dalam pengambilan keputusan etis. Dengan menimbulkan emosi moral tertentu dan mengenali kekuatan karakter tertentu kita dapat mempengaruhi pengambilan keputusan etis mahasiswa terutama menyangkut integritas akademiknya.

Pada ujian tersebut ia didampingi tim promotor Fathul Himam., MA., Ph.D, Prof. Th. Dicky Hastjarjo, Ph.D dan Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D. Paparan ujian terbuka tersebut memperoleh nilai maksimal  dan menghasilkan gelar Doktor untuk Ika Widyarini sebagai  doktor ke 3991 dari Universitas Gadjah Mada.[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_gallery interval=”3″ images=”6093,6097,6094″ img_size=”full”][/vc_column][/vc_row]

Scroll to Top